Cerpen "The One I love"

Kali ini Bank Of Science ingin membawa anda para pembaca kedunia khayalan, he,he.. ini cerpen buatan admin sendiri loh...
(cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tokoh dan alur cerita, itu bukan kesengajaan karena cerita ini berasal dari pemikiran, imajinasi dan hati saya he,he..)




Malam ini begitu indah sang purnama bersinar terang, namun rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh, menyusup sampai ke tulangku, rasa itu kian menyesakan dadaku, butiran air mata ini jatuh di pundak sang malam "jangan menangis bintang, ini untuk masa depan kita, kita sama-sama berjuang, bukankah kau yang selalu bilang, walau kita jauh hati kita dekat, ku pasti menunggumu, ketahuilah, hanya kau bintangku yang terindah" suara itu semakin membuat tangisanku menjadi.4tahun? Itu bukan waktu yang singkat,, meskipun sementara tapi sangat sulit untuk berpisah dengannya, namun, apa dayaku, ini semua demi masa depan dan cita-citaku, toh dia berjanji akan menungguku, begitupun aku, akan selalu menunggunya.Siang itu matahari bersinar terang, langkah kaki ini seakan sulit untuk di gerakan, "bintang, cepat nak" terdengar suara ayah memanggilku, "iya ayah sebentar,apa Bayu tidak mengantarkanku?" aku melihat-lihat sekeliling rumahku "dia harus bekerja sayang, tadi pagi dia kesini, tapi kamu masih tidur, jadi dia menitipkan ini untukmu". Yah, aku tau kesibukannya, dialah sosok yang ku banggakan, sosok yang bertanggung jawab, ku buka kotak merah berpita hitam tersebut, aku tercengang melihat sesuatu dalam kotak tersebut "cincin" senyum terkembang di wajahku melihat tulisan nama kami tertera dalam cincin tersebut, aku pergi dengan perasaan galau, namun aku juga senang menerima cincin ini.
* * *


18 bulan telah ku lalui di tempat baruku, jauh dari orangtuaku, keluargaku, juga angin ku (Bayu) meskipun komunikasi antara aku dan Bayu masih lancar namun tetap aku merasa kesepian, kini hanya bayangan Bayu dan cincin itu yang menemani kesepianku.. Oya, aku kuliah di salah satu universitas ternama di kota Bandung, kebetulan kosan ku tak jauh dari tempat kuliahku, hari ini cuaca cukup panas, hampir saja aku sampai di tempat kuliahku namun aku lupa sesuatu, aku berlari secepat kilat kembali ke kosan, aku bingung saat menemukan sepucuk undangan pernikahan di depan kamarku, apa ini untukku? Siapa yang menikah? Deg..deg.. Aku tertegun memandang undangan itu, darah mengalir begitu cepat, lebih cepat dari saat aku dikejar-kejar anjing tetangga.. Perlahan ku buka undangan tersebut, dep.. ah ternyata ini undangan dari Arlan, teman semasa SMA ku dulu, rasa lega menyelimutiku, namun ternyata ada 2 undangan yang ada di tanganku......  rasanya detak jantungku berhenti saat ku baca tulisan "Bayu Anggara" dengan "Karenia" "apa..!! tak mungkin ini angin.ku.. Tidak..!!" aku jatuh, duduk terkulai lemas dilantai, rasa tak percaya kian menyesakan dadaku, "Tidak mungkin1000000x..." hanya kata itu yang dapat terucap dari keluhnya bibirku.. Bisakah ku tahan airmataku, aku berlari jauh tanpa tujuan akan kemana aku..
Aku terus berlari, bayangan Bayu dan kenangan-kenangan itu kian bermunculan dalam ingatanku, secepat itu kah dia melupakanku, mengapa semuai ini terjadi secara tiba-tiba, mengapa dia tak pernah bilang padaku, padahal aku sudah 5tahun hidup bersama Bayu, sungguh sakit rasanya menerima semua ini. "Tenoonet..tenoneet" ponsel ku berbunyi, ku lihat, ternyata itu Bayu, ku matikan ponselku, aku tak ingin mendengarnya saat ini, ingatanku kembali bernostalgia.. "Jika malam tiba dan kau rindu padaku rasakan angin yang berhembus, kau kan mendengar aku memanggil namamu Bintang" ucap Bayu, dia duduk bersamaku di taman depan rumahku, sungguh indah saat itu, aku duduk bersama orang yang ku cintai di bawah sang malam, "Jika kau merindukan, lihat lah bintang-bintang itu kau kan menemukan bayang wajahku disana anginku" ucapku, masih terasa hangat ingatan itu di memorikuku, namun kini semua tak akan lagi seperti dulu,,
* * *
2hari menuju hari itu...
Kebingungan kini melandaku, apa yang harus ku lakukan? Haruskah ku datang ke hari pernikahannya? Tapi, itu membuatku terluka.. Kembali ku teteskan air mataku untuknya, y Allah serapuh ini kah aku,, bahkan aku tak dapat penjelasan apapun darinya, mengapa dia tega melakukan ini padaku lalu, mengapa akhir-akhir ini dia sering menghubungi saat dia buat luka di hatiku, apakah dia bermaksud menjelaskan semua ini? tapi aku menutup diri terhadapnya, ya memang benar, tak pernah ku angkat telpon dari nya, sms dari nya pun ku hiraukan, tidak..!! Aku tak boleh seegois ini, mungkin dia melakukannya karena terdesak atau apalah.. Aku harus merelakannya, jika dia jodohku dia pasti kembali padaku namun jika tidak, aku harus merelakannya, y Allah kuatkan aku..
Ku ambil hp ku dan ku cari nama Bayu, tututt,ttuuutt.. "Hallo" seketika tangisanku ingin pecah saat ku dengar suara itu ..
* * *


Di halte..
Siang ini cuaca cukup panas, aku duduk menunggu kedatangan bus yang akan membawaku ke kota kelahiranku dan membawaku menuju hari itu, sepanjang perjalanan ku habiskan dalam lamunanku, teringat kembali perbincangan tadi malam di telepon
"Bintang, bukan keinginanku untuk menikahinya tapi orangtua ku, kau harus percaya, orangtuaku hanya ingin balas budi karena dulu keluarga Karenia telah membantu melunasi besarnya hutang keluargaku pada Bank maafkan aku Bintang, telah membuatmu seperti ini, namun sungguh hanya kamu yang kucinta, setelah aku menikah akan ku buat dia membenciku hingga dia meminta cerai dan aku akan kembali padamu" terdengar kesedihan dalam nada suaranya, itu membuat tangisanku tak terbendung lagi "Tak apa sayang, aku mengerti, jangan lakukan itu, dia wanita sama sepertiku, bagaimana perasaannya jika dia tahu kau akan melakukan itu? dia pasti terluka, jangan lakukan itu, cintai dia seperti kau mencintaiku, aku ikhlas walau itu sungguh menyakitkanku, mungkin bukan takdirnya untuk kita bersatu, mungkin kau bukan jodohku" suaraku tertahan dalam isak tangis, suara terakhir yang ku dengar dari Bayu ialah "Kau satu-satunya Bintang dalam hatiku"
* * *


Hari itu pun datang,,
Suasana pernikahannya cukup meriah, aku terkesima memandang sosok tampan berbaju putih itu "Bayu" bahkan aku lupa kapan terakhir kita bertemu, haruskah kuperlihatkan kedatanganku padanya? Ya, bagaimanapun juga aku harus memberi selamat padanya, ku hampiri dan menyalami mereka, ya Allah aku ikhlas, kuatkan aku ya Allah..
* * *


36 bulan telah berlalu untuk melupakannya namun, jujur itu suatu hal yang tak mudah untuk ku lakukan, apalagi saat ku lihat Bara kecil itu, dia sangat mirip ayahnya, hidungnya, matanya, bahkan tatapan mata anak itu padaku terlihat seperti Bayu, yah, Bara kecil itu salah satu murid di paud tempatku mengajar, orang tuanya terlalu sibuk bekerja hingga Bara segera di masukkan sekolah paud, pekerjaanku disini hanya pekerjaan sampingan, pekerjaan tetapku ialah seorang guru Fisika di SMAN Nusa.
* * *


Hatiku masih sakit, y Allah apa benar aku ikhlas atas pernikahan mereka sedangkan sampai saat ini, aku belum bisa melupakannya 3 tahun sudah aku menjalani semua, y Allah berdosakah aku pada suamiku karena sesungguhnya dalam hatiku masih ada Bayu? Maafkan aku suamiku.. Ya, 2 tahun setelah pernikahan Bayu, aku pun menikah, orangtuaku tak tega melihat keadaanku sekarang, aku di nikahkan dengan orang yang sama sekali tak ku kenal, aku tak mungkin menolak, aku tak ingin orangtuaku kecewa kedua kalinya dan mungkin dia yang akan membuatku melupakan Bayu, suamiku baik, tampan, pintar hingga nyaris sempurna, Banyu namanya, dia yang akan menjadi air sumber ketenangan hatiku sekarang.
* * *


Kepalaku sungguh terasa berat dan sakit, ku buka perlahan kedua kelopak mataku, terlihat waktu menunjukkan pukul.02.30, suamiku dia sedang duduk berzikir di atas sajadah samping tempat tidurku, "Maaass Baaayuuu" aku mencoba bangkit, "Sayang, kau sudah bangun? Kau demam semalam, jangan berdiri dulu" suamiku menghampiriku, "Maaas Bayu" suaraku masih kaku, suamiku mendekat dan mencium keningku "Sayang, sadarkah kau telah salah memanggil nama suamimu ini hingga 2 kali?" dia tersenyum, "Suamiku, tak mungkin ku salah memanggil namamu, mas Banyu" aku bingung, "Ha,ha, kamu lucu sayang, sekarang benar kau memanggil nama suamimu ini Banyu tapi tadi kau salah" dia tertawa kecil seraya mencubit pipiku, "Benarkah aku salah?" aku menangis dan memeluk suamiku, "Maafkan aku suamiku, bencikah kau padaku?" ku lepaskan pelukanku, ku tatap lekat wajah suamiku, "Tidak sayang, aku tak marah, sudah jangan menangis, air matamu terlalu berharga,, aku pasti bisa membuatmu cinta padaku, tunggu tanggal mainnya istriku he.he" dia tertawa dan memelukku kembali. Ya Allah makhluk apa yang kau ciptakan dihadapanku ini, dia lebih dari sekedar malaikat dalam hidupku, tak mungkin ku sia-siakan pangeran sebaik ini, suamiku,, maafkan aku, aku mencintaimu, sekarang aku seutuhnya milikmu, cintaku, ragaku, jiwaku, hanya untukmu.. sifat dan sikapmu sebaik namamu suamiku, Banyu=air  kau selalu menjadi penyejuk hatiku.


"Suamiku, mas Banyu,, aku mencintaimu" ku raih dan ku cium tangan suamiku.
"Aku mencintaimu"


*The End*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Like Asahlah On Facebook