Izinkan Aku Mengenal-Nya







Cerpen Religi



“Aku pulang…” aku berlari ke dalam rumah, tak sabar ingin cepat bertemu mama dan papa, mereka berjanji hari ini akan pulang dari Australia untuk merayakan ulang tahunku besok... tapi, mengapa suasana rumah tetap hening, tak ada suara yang menyambut kepulanganku, ku telusuri tiap sudut rumahku, tiba-tiba… seseorang menyentuh dan meraih tanganku dari belakang, rasa nahagia menjalar keseluruh tubuhku, pasti itu mama, aku ingin cepat berbalik dan memeluk mama. Saat ku elus-elus tangan itu, haaaah….. nengapa tangan mama kasar seperti ini, aku berbalik ternyata itu, “ah, bibi” terdengar nada lemas dalam suaraku “Non, sedang apa disini kalau mau minum atau makan bilang sama bibi jangan ke dapur”suaranya lembut dan parau, mungkin karena faktor usia, beliaulah yang selalu mengingatkanku, menjagaku, dan menemaniku karena beliaulah inang pengasuhku. “bi, mama dan papa mana?” ku lunakkan suara penuh dengan harapan, “tadi ibu telepon, katamya belum bisa pulang hari ini, tapi segala keperluan untuk pesta ulang tahun non besok sudah dipersiapkan” “Apa… tidak!!! Aku tak butuh semua ini, aku hanya butuh mama dan papa” aku berlari menaiki tangga menuju kamar dengan linangan air mata, aaaaah…. Aku benci semua ini, mengapa mama dan papa selalu tak punya waktu untukku. Aku tak butuh harta, kekayaan atau apalah, aku hanya ingin kasih sayang dari mama dam papa.
* * *

"kriiing... sms datang, ayo kita buka" aku meraih ponselku bunyinya terdengar nyaring, tertera di layar itu pesan dari ka.Awan yang isinya "Selamat Ulang Tahun Maria", kebahagiaan seketika menjalar keseluruh tubuhku, mungkin karena dia orang yang aku kagumi selama ini, tapi sungguh mustahil aku bisa bersamanya, keyakinan kami sungguh sangat berbeda,, ehm, sudahlah tak usah ku ingat akan hal itu.
Ku turuni tangga menuju ruangan bawah, berharap akan ada kebahagiaan lainnya menyambutku,, tenyata kosong..!! Tak ada seorangpun disini, kemana orang-orang, apa mereka lupa akan hari ulang tahunku,, aku duduk di sofa, tubuhku lemas, bukankah ini hari bahagiaku tapi kenapa aku malah ingin menangis.. Tiba-tiba semua menjadi gelap, "siapa yang menutup mataku,, buka, cepat buka" aku hampir setengah berteriak,, "selamat ulang tahun, selamat.. ulang.. tahun.. Nona Mariaaa" nyanyian itu berasal dari suara-suara yang tak asing lagi bagiku, ya benar,, mereka pembantu- pembantuku, ya keluargaku juga, sudah ku anggap begitu,, aku menangis, sungguh aku terharu, ternyata masih banyak orang yang menyayangiku, namun tetap saja semua ini tak berarti tanpa kehadiran mama dan papa..
Tak ada yg ku kerjakan dari tadi pagi selain duduk di depan pintu, menatap derasnya hujan yang mengguyur,, aku menanti sesuatu, mama,, papa,, kapan kalian pulang? aku bosan dengan semua ini, aku benci,, aku berlari keluar dengan linangan air mata, entah kemana kakiku akan membawa,, aku terdiam, berdiri di depan sebuah rumah kecil yang terbuat dari bambu dan kayu, tak sedikitpun tembok menempel disana.. Pintu rumah itu terbuka menyadari kedatanganku "Mariaa, selamat ulang tahun, apa yang terjadi? mengapa kau menangis, kau kehujanan, ayo masuk" perempuan cantik dan saleha itu
memelukku, dialah sahabatku, walau kami tak satu keyakinan tapi dia mau berteman denganku, aku sudah menggapnya seperti kakak.ku, aku menyayanginya...

Aku memutuskan untuk tinggal di rumah Laila beberapa saat, berharap aku bisa mendapat ketenangan disini,
keluarga ini menyambut kedatanganku dengan hangat, sungguh sangat sempurna, aku iri pada Laila, eh, ssstt aku tak boleh begitu. Loh, kemana mereka sekarang, ku berjalan melewati sebuah ruangan dan melihat pemandangan yg menakjubkan, haaah, apa yang sedang mereka lakukan? Mereka berbaris dengan rapi, gerakannya seperti berolahraga? Lalu pakaian apa yang mereka pakai? Aku berdiri di depan pintu ruangan itu, aku terus memandang dengan perasaan bingung,, "Maria, sedang apa disitu sayang? Kemarilah" suara lembut ibu membuyarkan lamunanku, aku masuk mendekati mereka.. "apa yang sedang kalian lakukan? Gerakannya seperti sedang berolah raga? Lalu, apa ini" aku menunjuk ke kain putih yang ibu pakai, ku hujani ibu dengan banyak pertanyaan, ibu menjawabnya "sayang, yang kami lakukan itu namanya shalat, shalat yaitu salah satu ibadah yang wajib dikerjakan oleh semua umat muslim (islam) dan Allah.swt yang menciptakan manusia beserta seluruh alam ini" aku masih bingung dengan penjelasan ibu,, lalu, ayah laila menjelaskannya kembali kepadaku, kini aku tahu, aku mulai tertarik dan ingin rasanya aku juga mengenal Tuhan.ku, yang menciptakanku.
* * *

Suatu hari,
"ayah ,ibu, bolehkah aku masuk agama kalian, aku ingin mengenal Allah?" "boleh sayang, karena memeluk agama adalah hak setiap orang, tapi sudah mantapkah hatimu" kata ibu, akupun menjawab dengan kesungguhan hati "hatiku sudah mantap bu, aku sungguh-sungguh" "baiklah nak, kalau kau sudah memantapkan hatimu ikuti kata-kata bapak,, ashaduallailahaillallah.waashaduannamuhammadarrasulullah".
* * *

"Alhamdulilh, bahagia rasanya, aku dapat mengenalmu y Allah, kau lah kekasihku, ampunilah dosa kedua orangtuaku dan izinkan mereka untuk dapat merasakan indahnya mencintaimu, amien". Itu doa yang aku panjatkan setelah shalat subuh, aku berdiri, melihat bayanganku dicermin, "secantik inikah aku dengan jilbabku" gumamku, "benar, kau sangat cantik dengan jilbabmu, Maria, eh maaf, maksudku Maryam aku lupa kau sudah mengganti nama" aku berbalik, terhenyak melihat ka.awan, "assalamualaikm ka, tumben ka.awan kesini" aku tersenyum. "maaf Maryam, mungkin kabar ini akan menyakitkan hatimu" apa maksud ka.Awan? aku bingung, apa dia akan bilang bahwa dia telah memiliki wanita shaleha, bukan aku "Maryam, orang tuamu, kecelakaan, sekarang ada di rumah sakit Harapan." kaget aku mendengarnya, tidak mungkin, tanpa kata-kata dan fikir panjang aku langsung menuju rumah sakit, tapi naas, sungguh malang nasibku, Allah telah mengambil orangtuaku sebelum aku sempat bertemu mereka, tapi aku ikhlas jika itu memang kehendak-Nya, aku ikhlas y Allah.
* * *

Pandanganku buram, sungguh sulit untuk ku membuka mata, kepalaku pusing, butuh beberapa menit untuk memulihkan fikiranku kembali,,
entah berapa lama aku sudah terbaring disini, lemah, tak berdaya, hidupku sekarang tergantung pada tabung oksigen yang berdiri di sampingku,, ku lihat ka.Awan sedang shalat dan berdoa, disisi lain ku lihat Laila tidur di samping tempat tidurku, ka.Awan menemaniku, apa dia menyayangiku, atau hanya kasihan padaku,
"Maryam, kau sudah sadar?" aku masih sulit untuk berbicara, ku balas pertanyaannya dengan senyuman. "Maryam ini aku Laila" dia menangis "Laaiilaa" kataku terbata-bata "iya, kau sudah koma selama beberapa hari, aku bahagia kau telah sadar"
dari situ aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku, sekarang yang aku rasakan hanya rasa sakit di kepalaku,, sungguh sakit, akupun merasa mual yang terlalu,, apa yang terjadi y Allah, kuatkan aku, aku tak bisa menggerakkan seluruh badanku,, ingin rasanya aku meminta tolong, tapi susah untuk mengatakannya, mulutku seakan terkunci rapat, aku tersiksa untuk beberapa saat, aku mendengar kalimat itu kembali, seketika bayangan mama,papa, laila, keluarganya, dan ka.Awan hadir dalam bayanganku, mereka tersenyum padaku,,
"ashaduallailahaillawllah waashaduannamuhammadarrasullullah"
aku mencintaimu y Allah, aku mencintai keluargaku,, ka.Awan biarlah ku bawa cinta ini dalam hati, selamanya.

selesai

 In cerita asli cerita buatan Admin, he, he

5 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Like Asahlah On Facebook